Kain-kain tradisional Indonesia atau yang sering disebut sebagai wastra bukan hanya sekadar komoditas tekstil, melainkan lembaran sejarah yang memuat filosofi mendalam dari para leluhur. Namun, banyak koleksi kain kuno milik keluarga maupun museum yang mengalami kerusakan permanen akibat kesalahan dalam perawatan dasar, terutama proses pencucian. Menyadari hal tersebut, organisasi Dharma Wanita mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan pelatihan khusus mengenai teknik konservasi tekstil. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Penyelamatan Wastra warisan budaya agar keindahan motif dan kekuatan serat kain tetap terjaga hingga ratusan tahun mendatang.
Pelatihan ini menyoroti bahwa mencuci kain kuno sangat berbeda dengan mencuci pakaian modern pada umumnya. Wastra yang berusia puluhan tahun, terutama yang menggunakan pewarna alami seperti soga, tarum, atau mengkudu, sangat rentan terhadap bahan kimia keras yang terkandung dalam deterjen komersial. Para peserta diajarkan untuk menggunakan bahan pembersih alami yang bersifat netral, salah satunya adalah lerak. Buah lerak mengandung saponin alami yang mampu mengangkat kotoran tanpa merusak struktur serat sutra atau katun tenun tangan yang sudah rapuh dimakan usia. Penggunaan bahan alami ini adalah kunci utama dalam menjaga agar warna kain tidak luntur atau menjadi kusam.
Selain bahan, teknik fisik dalam mencuci juga menjadi perhatian utama. Peserta dilatih untuk tidak memeras atau menyikat kain secara kasar. Proses pembersihan dilakukan dengan cara merendam dan menepuk-nepuk permukaan kain secara perlahan di atas bidang datar. Kelembaban udara dan suhu air juga harus dikontrol; air yang terlalu panas dapat mengerutkan serat protein pada sutra, sementara air yang terlalu dingin mungkin tidak efektif mengangkat jamur atau debu yang menempel. Metode cuci manual ini membutuhkan kesabaran yang tinggi, yang mencerminkan dedikasi perempuan Indonesia dalam merawat identitas bangsanya melalui wastra.
Dharma Wanita juga memberikan edukasi mengenai cara pengeringan dan penyimpanan setelah dicuci. Kain kuno dilarang keras terpapar sinar matahari langsung karena radiasi ultraviolet adalah musuh utama pewarna alami. Proses pengeringan dilakukan di tempat yang teduh dengan sirkulasi udara yang baik. Setelah kering, cara melipat atau menggulung kain pun ada aturannya agar serat kain tidak patah di bagian lipatan. Penggunaan kertas bebas asam (acid-free paper) atau kain putih bersih sebagai pelapis saat disimpan menjadi standar operasional yang diperkenalkan dalam pelatihan ini guna menghindari migrasi warna atau serangan serangga.
