Di samping pelajaran matematika, fisika, atau sastra, ada satu pelajaran yang tak kalah penting untuk dipelajari di sekolah: empati. Empati bukanlah bawaan lahir semata, melainkan sebuah keterampilan sosial yang dapat diasah. Oleh karena itu, membangun karakter peduli dan berbagi di kalangan siswa adalah tugas krusial bagi setiap institusi pendidikan. Dengan empati, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi komunitas yang saling mendukung, di mana setiap siswa merasa dihargai dan tidak sendirian.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan sekolah untuk membangun karakter empati. Salah satunya melalui program-program sosial yang melibatkan siswa secara langsung. Sebagai contoh, di sebuah SMA di Surabaya, pada hari Jumat, 26 Juli 2024, para siswa mengadakan kegiatan “Jumat Berbagi”. Mereka mengumpulkan bahan makanan dan pakaian layak pakai dari seluruh warga sekolah untuk disumbangkan kepada korban bencana alam. Dalam kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar tentang koordinasi dan logistik, tetapi juga merasakan kebahagiaan dari memberi dan membantu sesama yang sedang kesusahan. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Bapak Edi Susanto, yang memberikan apresiasi atas inisiatif para siswa.
Selain itu, empati juga dapat ditumbuhkan melalui kegiatan sehari-hari di dalam kelas. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang suportif dengan mendorong siswa untuk saling membantu, bukan saling menjatuhkan. Contohnya, ketika seorang siswa mengalami kesulitan memahami materi, guru dapat meminta siswa lain yang sudah menguasai untuk menjadi mentor. Proses ini tidak hanya membantu siswa yang kesulitan, tetapi juga membangun karakter kepemimpinan dan rasa tanggung jawab pada siswa yang menjadi mentor. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa keberhasilan teman juga merupakan keberhasilan bersama, bukan ancaman.
Untuk mengatasi tantangan perundungan di sekolah, empati juga menjadi benteng pertahanan yang paling efektif. Ketika seorang siswa mampu merasakan apa yang dirasakan oleh korban perundungan, ia akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang menyakiti orang lain. Pada hari Senin, 29 Juli 2024, di sebuah seminar yang diadakan oleh Polres setempat, seorang petugas kepolisian dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Kompol Ratih Paramitha, menyampaikan bahwa salah satu cara terbaik untuk mencegah perundungan adalah dengan membangun rasa empati yang kuat di antara siswa.
Pada akhirnya, membangun karakter peduli dan berbagi adalah investasi jangka panjang. Ini bukan hanya tentang menghasilkan siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga pribadi yang memiliki hati nurani yang peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan empati, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas, menciptakan dunia yang lebih baik dan penuh kasih sayang.
