Ketika anak berbuat salah, reaksi pertama orang tua seringkali adalah memberikan hukuman, baik itu teguran keras maupun sanksi fisik. Namun, pendekatan ini seringkali hanya mengatasi masalah sesaat dan tidak mengajarkan anak untuk bertanggung jawab. Sebaliknya, disiplin positif menawarkan cara yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pendekatan ini berfokus pada pembentukan karakter, mengajarkan anak tentang konsekuensi, dan membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, alih-alih hanya berfokus pada hukuman.
Salah satu prinsip utama disiplin positif adalah mengidentifikasi akar masalah dari perilaku anak. Alih-alih langsung menghukum, orang tua diajak untuk bertanya, “Mengapa anak saya melakukan ini?” atau “Apa yang mereka coba komunikasikan?”. Mungkin anak hanya mencari perhatian, merasa frustrasi, atau tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan emosinya. Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat memberikan respons yang lebih tepat dan membangun. Menurut Ibu Rina Wulandari, seorang psikolog anak dari sebuah rumah sakit di Jakarta, dalam sebuah seminar parenting pada Senin, 20 November 2025, “Disiplin positif adalah tentang menjadi detektif, bukan hakim. Ini adalah pendekatan yang berfokus pada solusi, bukan hukuman.”
Pendekatan disiplin positif juga mengajarkan anak tentang tanggung jawab. Contohnya, jika anak menumpahkan air, alih-alih memarahinya, orang tua bisa berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Ayo kita bersihkan bersama.” Sikap ini mengajarkan anak bahwa kesalahan bisa diperbaiki dan mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ini membangun rasa percaya diri dan kemandirian, dua hal yang tidak akan mereka dapatkan dari hukuman.
Selain itu, disiplin positif berfokus pada penguatan perilaku baik. Berikan pujian dan pengakuan ketika anak melakukan hal yang benar. Pujian yang spesifik, seperti “Ayah bangga kamu bisa berbagi mainan dengan adik,” akan jauh lebih efektif daripada pujian umum seperti “Kamu anak hebat.” Pengakuan ini mendorong anak untuk mengulangi perilaku positif. Pendekatan ini membantu anak untuk mengembangkan rasa harga diri yang kuat, yang sangat penting untuk kesehatan mental mereka.
Pentingnya pendekatan ini juga diakui oleh pihak kepolisian. Kompol Budi Santoso, dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Jawa Barat, menyatakan bahwa disiplin positif dalam keluarga dapat mencegah kenakalan remaja. “Anak yang tumbuh dengan pendekatan ini cenderung memiliki komunikasi yang lebih baik dengan orang tua dan tidak mudah terjerumus ke hal-hal negatif. Kami percaya, keluarga adalah benteng pertama pencegahan,” kata Kompol Budi dalam sebuah acara sosialisasi pada 23 November 2025.
Secara keseluruhan, disiplin positif bukan sekadar teori, melainkan sebuah metode yang telah terbukti efektif. Dengan berinvestasi dalam waktu dan kesabaran, orang tua dapat membentuk karakter anak yang kuat, bertanggung jawab, dan memiliki hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar, tanpa harus melalui drama dan emosi yang berlebihan.
