Stop ‘Toxic Parenting’: Mendidik Anak Tanpa Tekanan dan Paksaan

Dalam upaya mendidik anak, orang tua seringkali terjebak dalam pola asuh yang justru memberikan tekanan berlebih dan merusak mental anak. Pola asuh yang dikenal sebagai ‘toxic parenting’ ini seringkali didasari oleh niat baik, namun penerapannya yang salah dapat menyebabkan anak merasa cemas, tidak berharga, dan kehilangan kepercayaan diri. Mendidik anak seharusnya menjadi proses yang membangun, bukan menjatuhkan. Dengan menghindari paksaan dan tekanan, kita dapat membantu anak tumbuh menjadi individu yang bahagia, mandiri, dan berani.


Mengganti Paksaan dengan Komunikasi

Salah satu ciri utama dari toxic parenting adalah penggunaan paksaan untuk mengontrol perilaku anak. Orang tua yang terbiasa memaksa anak, misalnya untuk memilih ekstrakurikuler tertentu atau memiliki nilai sempurna, tanpa disadari telah merampas hak anak untuk memiliki pilihan. Sebaliknya, pendekatan yang lebih sehat adalah dengan komunikasi terbuka. Pada Kamis, 21 Agustus 2025, seorang psikolog anak di sebuah webinar parenting di Jakarta, menyarankan orang tua untuk mulai berdialog dengan anak. Daripada berkata, “Kamu harus ikut les piano,” lebih baik bertanya, “Apa yang kamu suka? Ayo kita cari tahu apa saja yang bisa kamu lakukan.” Dengan cara ini, kita tidak hanya menghindari paksaan tetapi juga mendorong anak untuk mengambil keputusan sendiri, yang merupakan bagian penting dari proses mendidik anak.


Menerapkan Pujian yang Tepat

Pujian adalah alat yang kuat dalam mendidik anak, tetapi jika tidak tepat, bisa menjadi bumerang. Pujian yang berfokus pada hasil akhir, seperti “Kamu pintar sekali karena nilaimu bagus,” dapat membuat anak takut gagal. Anak akan merasa bahwa nilainya yang buruk akan membuat orang tua tidak bangga. Sebaliknya, pujian yang berfokus pada proses dan usaha, seperti “Kerja kerasmu sangat luar biasa!” atau “Ibu bangga melihat usahamu untuk belajar lebih giat,” akan membentuk pola pikir berkembang (growth mindset). Anak jadi tidak takut mencoba hal baru karena mereka tahu bahwa yang terpenting adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya. Sebuah laporan dari Yayasan Perlindungan Anak pada Januari 2025 menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan pujian proses memiliki tingkat kepercayaan diri 30% lebih tinggi.


Mengenali Batasan Anak dan Memberi Ruang untuk Gagal

Setiap anak memiliki keunikan dan batasan yang berbeda. Memaksa anak untuk menjadi apa yang kita inginkan hanya akan menciptakan tekanan yang tidak perlu. Penting untuk mengakui bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Daripada memarahi anak saat mereka gagal, dukung mereka untuk bangkit kembali. Contohnya, jika anak gagal dalam sebuah kompetisi, alih-alih menyalahkan, katakan, “Tidak apa-apa, kita bisa belajar dari kegagalan ini dan coba lagi nanti.” Sikap ini akan membentuk anak yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Pada akhirnya, mendidik anak adalah tentang membimbing, bukan mengendalikan. Dengan memberikan rasa aman, dukungan, dan kebebasan untuk bereksplorasi, kita akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan bahagia.